Faculty of Public Health

Faculty of Public Health - Malahayati University
Your Public Health Change Agent
Akreditasi "B"

Kamis, 19 Desember 2013

PERTEMUAN 5 * OBROLAN SEPUTAR SEKSUALITAS




Jika ada pertanyaan, silahkan tulis di dalam KOLOM KOMENTAR.

8 komentar:

  1. Eka Lisa Afriyani ,NPM 12410037.P, HADIR
    Ass..maaf ibu saya ingin bertanya tentang sunat pada anak perempuan.Diketahui secara medis,tidak ada manfaat sunat bagi anak perempuan,bahkan sekarang bila hal itu dilakukan maka akan melanggar HAM.Bagaiman memberikan pengertian dan promkes yang baik kepada masyarakat tentang hal ini..karena terkadang ada beberapa anggota masyarakat yang tetap memaksa meminta dilakukan sunat pada anak perempuan mereka, trmksh bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tk mbak atas pertanyaannya..masalah sunat pada wanita masih menjadi perbincangan terutama dari segi agama, tetapi dari segi medis katanya tidak ada manfaatnya dan secara hukum katanya melanggar HAM.

      saya belum berani memberikan keputusan yang terbaik karena setiap segi mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri. begitu juga dengan masyarakat yang masih kekeh meminta anak perempuannya di sunat.

      untuk upaya promkes, pelajari dulu mengenai manfaat dan kerugian sunat pada wanita?kepada siapa kita akan memberikannyanya? tetapi memang indah, kalau agama, budaya, hukum bisa bergandengan dalam membentuk masyarakat kita.tk

      Hapus
  2. Maaf bu melanjutkan pertanyaan lisa ,pada kenyataannya memang sangat sulit merubah kebiasaan sunat pada perempuan karena budaya sunat pada perempuan sudah merupakan keharusan dimasyarakat...jadi mitos seputar sunat pada perempuan sulit dihilangkan.. jadi apakah kita sebagai tenaga kesehatan perlu melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama , dalam upaya meniadakan sunat pada perempuan? trimksh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tk mbak ani atas pertanyaannya...kenapa harus galau mau merubah kebiasaan masyarakat kita..kalau sunat secara medis tidak ada manfaatnya, secara agama masih dijadikan perbincangan seru tetapi secara budaya masih dikehendaki oleh masyarakat.

      tetapi jika setelah dipejari secara mendalam maksud dari anjuran agama, medis dan hukum tidak ada manfaatnya ...kita bisa melakukan avokasi kepada pembuat kebijakan dan bina suasana kepada toma, toda, petugas kesehatan menegnai hal ini.tk

      Hapus
  3. Bu, kenapa ya bu dari zaman dulu sampai sekarang keperawanan lebih ditekankan kepada perempuan. Sedangkan mungkin lebih banyak laki laki yang tidak perawan lagi dibandingkan dengan perempuan. apakah hanya semata mata budaya saja?? sedangkan konsep keperawanan berlaku untuk perempuan dan laki laki..

    BalasHapus
  4. tk mbak atas pertanyaannya...secara teori keperawanan itu berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan. tetapi kenapa kok hanya perempuan yang selalu dipermasalhkan? pada wanita, keperawanan bisa dilihat dari keutuhan selapu dara, sedangkan pada laki-laki keperawanan bisa dilihat dari kejujuran...hehe..budaya patriarki kita cukup berpengaruh terhadap keberadaan wanita termasuk di dalamnya masalah reproduksi.

    secara hak reproduksi, wanita mempunyai hak penuh untuk memutuskan mau punya anak atau tidak dan juga menentukan jumlah anak karena rahim ada pada wanita. saat ini, apa yang terjadi dengan hak reproduksi wanita?

    BalasHapus
  5. maaf bu, berkaitan dengan masalah sunat pada anak perempuan, saya sering diminta tolong untuk menyunat anak bayi perempuan, hal yang selama ini saya lakukan saya memberikan penjelasan ke pada keluarga bahwa dari aspek medis sebenarnya tidak ada manfaatnya, tetapi jika keluarga tetap memaksa maka tetap saya lakukan tetapi dengan alasan budaya saja dan itupun tidak saya lukai klitorisnya hanya saya bersihkan saja, hal tersebut saya lakukan agar si keluarga tidak kecewa bu, bagaimana menurut ibu

    BalasHapus
  6. yolan sasana putra
    13410015

    BalasHapus

Google+ Followers